Friday, January 5, 2007

Adam Air dan FFI

Dua berita ini menjadi fokus perhatian gue saat ini: hilangnya pesawat Adam Air dan pelaksanaan FFI 2006 yang dituduh penuh dengan penyuapan. Berita yang pertama jadi perhatian karena tiap koran, tiap TV dan semua media lagi sibuk "nyari" pesawat Boeing 737-400 itu sementara yang kedua mengisi setengah otak gue karena emang itulah kerjaan gue.

Oke, let's see. Adam Air diperkirakan jatuh pada tanggal 1 Januari lalu (correct me if I'm wrong coz I don't do some check and recheck for the facts here) dan hingga hari keempat ini masih belum ketemu dimanakah reruntuhan pesawat itu.

102 orang ada diatas pesawat naas itu. Naas, karena sampai saat ini belum ada kabar cerah sedikitpun tentang keberadaan pesawat maupun para penumpang. Diperkirakan sih pesawat itu emang jatuh dan gak ada survivor. Karena menurut gue, jika ada survivor, pasti ada kontak dengan keluarga, minimal. Hey, ini tahun 2006 dimana bahkan anak SD pun bawa handphone. Tapi mungkin karena gak ada sinyal. Tapi gue pikir kalo ada survivor, dari 102 orang itu pasti banyak yang bawa handphone dan masalah sinyal mungkin bisa diatasi dengan berpindah tempat.

Kedua, ada radio. Jika benar2 ada survivor, pasti radio bisa digunakan. Tapi kita ngomongin Adam Air sih, ya.. yang pernah peralatan navigasinya rusak sampe salah mendarat. Jadi gak tau juga.

Nah, berita terakhir gue dapetin tadi malem. Ada wawancara dengan ahli tentang sebuah gambar dilaut yang terlihat seperti bangkai pesawat meskipun enggak sempurna. Menurut sang ahli, gambar yang gak sempurna itu kemungkinan besar karena pesawat meledak di udara sebelum jatuh ke laut. Dan plot ini pernah terjadi sebelumnya.

Gue pikir pendapat si ahli itu sangat masuk akal, apalagi pas liat gambarnya. Entah tim SAR udah meriksa kesana atau belum, mudah2an udah. Tapi gue sempet serem juga, kalo emang bener pesawat itu meledak di udara dan jatuh kelaut... hmm.. seperti apa ya, "saat2 terakhir" diatas pesawat itu?

Pastinya ada wanita, dan anak2. Were they already know what's going on onboard? Were they prepare to fall? Pramugari pastinya udah "nyiapin" mereka, what with seatbelt, pelampung dan posisi darurat yang harus dilakukan. Were they scare? Were they scream?

Dari semalem gue ngeliat gambar pesawat didasar laut itu, pikiran2 seperti itulah yang terlintas dibenak gue. Apakah mereka menangis? Pesawat yang gue tumpangin gak pernah mengalami kejadian darurat, tapi kalo ada kejadian seperti itu, gue kebayangnya semua orang pasti panik. Women will be screaming, sementara pria2 pasti marah2 (so typically guys kalo mereka stres tapi gak punya pelampiasan). Pramugari hilir mudik, mencoba menenangkan penumpang dengan senyum manisnya yang dibalas dampratan, dan degup jantung mereka sendiri yang menunjukkan mereka takut meskipun mereka memaksa tersenyum, seperti standard operating procedure (s-o-p) yang diajarkan ke mereka.

Dan bagaimana dengan kaptennya sendiri? Apakah dia pasrah? Apakah dia masih berusaha hingga detik terakhir? Apakah mungkin saja, dia sudah bunuh diri terlebih dahulu? Terlalu dramatis mungkin, tapi bisa saja.

Itu dengan asumsi pesawat itu benar2 jatuh ke laut.

Jika, dengan keajaiban Tuhan, pesawat itu berhasil mendarat darurat disuatu tempat dan para penumpang selamat, apa yang sedang mereka lakukan sekarang? Bagaimana mereka bertahan hidup selama empat hari ini? Gue pernah baca sebuah pesawat jatuh dan berhasil mendarat darurat disebuah rawa2 yang sayangnya merupakan sarang buaya. Jadi kondisi penumpangnya sama aja dengan mereka tidak pernah melakukan pendaratan darurat alias jadi santapan buaya.

Hmmphh.. gara2 Adam Air, gue terpaksa mereview ulang mode transportasi gue sekarang. Gue selalu berpikir bahwa Jakarta-Surabaya adalah rute teraman karena penerbangannya cuma satu jam (bahkan kalo naek Fokker100 sekalipun ;D) dan diantara rute itu ada bandara Solo, Yogya dan beberapa bandara kecil lain. Jadi harusnya bisa ada pendaratan darurat.

Tapi pikiran seperti itu tetep gak bisa menghilangkan perasaan gugup gue tiap kali pesawat gue take off. Saat take off adalah saat paling menakutkan buat gue karena somehow gue masih gak kebayang ilmu atau mesin yang bisa mengangkat pesawat beribu2 ton ke angkasa. Mungkin kalo gue masuk teknik aeronautika gue gak akan takut, tapi kan gue cuma lulusan teknik industri ;D.

Nah, diantara kekhawatiran tentang nasib korban Adam Air dan nasib gue yang cuma mampu naek maskapai murah macem Adam Air itu, korlip gue ngedatengin gue dan berpesan, "Bos minta kita terus pantau berita tentang FFI, soalnya itu berita besar".

Gue cuma mengangguk2 gak semangat. Maksud gue, protes sekumpulan film maker muda yang merasa dicurangi karena filmnya yang dibuat dengan berdedikasi tinggi (dan beberapa diantaranya beneran bagus) gak menang, dan yang menang adalah film yang banyak ngejiplak, protes ini jadi terlihat egois.. dibandingkan dengan nasib penumpang Adam Air.

Dalam kesempatan lain, mungkin protes mereka adalah berita besar, tapi untuk saat ini, mari kita semua mencurahkan perhatian kepada para penumpang itu..

Btw, gue deg2an ama kabar Adam Air ini sama seperti gue deg2an liat kabar tsunami di Aceh tahun 2004 dulu. Soalnya, menurut kabar, naek pesawat itu adalah sistem transportasi yang jauh, jauh lebih aman dari segala transportasi lain. Dan kedua musibah itu.. sama2 tak terelakkan..

2 comments:

Anonymous said...

Koment anda norak dan tidak ada edukasi, bayangkan jika anda adalah salah satu keluarga dari Adam air yg jatuh. Tolong sekolah jurnalis lagi, biar ada aturan kalo nulis.

LonelyWanderer said...

mas ferry, pertama, saya gak kenal anda, jadi jangan semena-mena menilai saya.

kedua, ini blog pribadi, saya tidak pernah punya maksud agar mas ferry (atau keluarga korban) untuk membacanya.

ketiga, anda bilang saya norak, lebih norak mana dengan orang yang bisanya cuma marah2 di blog orang laen, yang gak dikenal pula.

keempat, you may get lost. yes, i'm not nice!