Tuesday, January 17, 2006

Ngomongin Playboy Indonesia

Hari ini gue siaga pagi. Siaga: sebuah kegiatan membosankan untuk ngabisin waktu di kantor nungguin pewarta lain dilapangan kirim berita, yang anehnya selalu tidak ada kalo gue yang siaga ;(.

As always, sebagai pewarta siaga yang baik hati dan tidak sombong, jagoan lagipula pintar (nyontoh mas Boy, pemuda harapan bangsa taon 80-an) gue kan browsing2 VSAT ANTARA (jangan tanya gue kepanjangan VSAT itu apa, pokoknya itu adalah tempat berita2 ANTARA bisa diakses).

Nah, untuk hari ini, kayaknya yang lagi rame adalah rencana penerbitan majalah Playboy Indonesia, yang konon investasi untuk itu termasuk beli lisensinya so far telah ngabisin Rp1 miliar. Oohh yeahh.. Yeah, baby!

Yang seru itu bukan isi majalahnya (baca: gambarnya) tapi adalah perdebatan seru yang telah dimulai bahkan sebelum majalah itu keluar (edisi perdana direncanakan Maret). Mereka yang ngritik itu sadar gak sih bahwa kontroversi ini malah bikin majalah itu bakal banyak dicari orang. Itung2 promosi gratis.

Kritik datang dari.. mmm.. let see.. Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), Fraksi PDI Perjuangan, Ketua PB Nahdatul Ulama (NU) KH Masdar Farid Masudi, Wakil Sekjen DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah, Sekretaris Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) Theophilus Bela, Front Pembela Islam (FPI), Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tak lupa Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi (Perhimpunan MTP).

Tapi seru juga kalo orang Indonesia ngomongin pornografi. Semua menolak. Semua mengutuk. Pornografi itu jelek. Jangan biarkan pornografi ada diatas muka bumi Indonesia. Semua orang Indonesia itu beragama, gak akan ada yang mau liat gambar cewek2 telanjang. Oh, yeah?

Tolak Playboy, tapi belilah tabloid Lipstik dengan harga murah di lapak2 pinggir jalan. Really, people!

Gue suka kesel aja ngeliat kelakuan orang2 yang suka terlalu berlebihan menyikapi satu hal yang belum jelas. Kesannya ikut2an. Mentang2 MUI menolak Playboy, semua ikut nolak Playboy. Yang bener aja!
(tapi mungkin mending mereka yang ikut2an punya sikap daripada gue yang seringkali abstain, kali ya.. ;D)

Tapi apa gunanya Playboy ditolak padahal VCD gituan bisa dengan gampang didapat di Glodok dengan harga Rp5 ribu aja?

4 comments:

Anonymous said...

gw termasuk aliran yang menolak Playboy....!!!!
bahkan termasuk aliran garis keras, walau dengan alasan berbeda dengan Habieb Rizieq.
Yang bikin gw menolak karena gara2 Playboy edisi Indoensia ini gw dapet tugas aneh bin ajaib dari redaktur lipsus
wawancara ma model Playboy atau model foto bugil dalam tempo 3x24 jam
dapet darimana coba?
hiks...hiks...hiks...
ayo dong Rie, tolongin...
deadline besok nih

LonelyWanderer said...

huahahaha.. yenni, kamu lucu deh!
alasan nolak playboy itu.. ampun deh. btw, udah tau kabar model bali yang difoto bugil ama fotografer petter hagre itu? wawancara dia aja. beritanya banyak di detik.com tuh.
udah dapet belum modelnya? emang tau siapa? kan rahasia?

Anonymous said...

wkwkwkw....nolak playboy...coba kita nolak korupsi dulu aja dah

konde said...

wwkkkkk.w.w.wkw.w..wkkwkw...bagus tuh playboy kalau masuk...kan bisa lebih membesarkan perut para koruptor