Satu hal yang menyebalkan dari Jakarta adalah kemacetan. Yeah, semua orang tahu itu. Maka daripada itu, secinta2nya gue kepada rumah berhalaman di pinggir kota, punya properti (rusun maksudnya) ditengah kota adalah satu pilihan yang sangat dimungkinkan.
Hmm.. gak kebayang tiap hari harus bolak-balik dari Cimanggis. Seperti pagi ini. Bangun 6.30 pagi (hiks.. rindu Setiabudy already, bangun bisa jam 8), mandi dengan menahan dingin yang menusuk tulang, siap2 seadanya kalo gak mau ketinggalan tumpangan ke Kampung Rambutan jam 07.00.
Dan kenapa harus numpang? Well, selain lebih nyaman, tentunya karena keluar dari perumahan itu rumit. Membutuhkan seorang tukang ojek dengan bayaran Rp10.000 dan tukang angkot dengan bayaran Rp3.000. Dan nyampe terminal Kampung Rambutan udah kusut semuanya.
Tapi naek tumpangan Yaris juga bukannya tanpa masalah. Masalahnya adalah, tampang gue jadi kusut juga karena bangun kepagian. Hehehehe...
Jadinya malah gak ada kerjaan, ngendon di kantor dulu, ngeblog... Duh, gue cinta kosan ditengah kota gue.. Hidup anak kos! Yang ditengah kota! Yang gak ditengah kota, gak hidup! Hihihi..
Arsip:
- Fauzi Bowo Minta Kewaspadaan Terhadap Aksi Terorisme di Jakarta
No comments:
Post a Comment