Sunday, January 3, 2010

Energi Negatif

Hari Minggu. Bangun pagi berharap hari ini akan berjalan santai dan nyaman.. seperti layaknya hari libur. Tapi ternyata tidak bisa begitu juga. Sebuah telpon dari kakak yang sedang kesal, dan melemparkan kekesalannya ke saya, ternyata sukses membuat hari ini tidak nyaman.

Tapi itu membuat saya berpikir, kenapa orang kesal seringkali ingin orang lain merasakan apa yang ia rasakan? Kenapa kemarahan, kesedihan dan segala energi negatif itu harus dibagi? Dan kenapa saya?

Mungkin ini bisa dibilang akumulasi dari energi negatif itu mulai menunjukkan dampak merusaknya di saya. Selama seminggu terakhir, saya mencoba menemani teman yang sedang patah hati dan mencoba menyemangatinya. Dan saya gagal. Karena teman saya lebih suka melempar energi negatifnya saja, tidak mau sama sekali melihat sisi positif dari segala hal. Bahkan tidak mau mendengar satu katapun dari saya.

Dan salah satu sahabat dan mantan pacar saya. Masih dengan sikap emosional berlebihannya. Dan kembali melempar energi negatifnya kepada saya. Mencoba membuat saya merasa sekesal dia. Maaf, saya sudah sering melakukan itu dulu. Rasanya tidak nyaman. Terlalu berat.

Mantan pacar yang lain. Yang mencoba membuat saya kesal, karena menurut dia reaksi apapun dari saya lebih baik daripada jika saya mengabaikannya seperti yang saya lakukan selama ini. Sayang, sudahlah. Semua sudah berakhir.

Dan terakhir pagi ini, kakak saya. Membuat saya ingin menjerit dan kabur. Melarikan diri dari semua permasalahan yang bahkan, bukan masalah saya. Dan bahkan, saya jadi tidak punya waktu untuk memikirkan permasalahan saya sendiri.

Dan saya melempar energi negatif itu kesini. Gak tahu lagi harus saya lempar kemana. Dan saya harus mengeluarkannya. Mengeluarkan dari kepala saya, yang sudah berdenyut menyakitkan selama tiga hari terakhir. Sepertinya tekanan darah saya drop lagi.

Setidaknya satu hal bisa saya nantikan malam ini. Pacar saya yang sabar dan pengertian. Siapa tahu ia mau traktir nonton Sherlock Holmes, hahaha... sepertinya saya butuh dihibur..

No comments: