Tuesday, June 12, 2012

Freedom of Fear

Yeah, freedom of fear, bebas dari rasa takut. Itulah menurut saya bentuk kebebasan tertinggi. Dan kenapa tiba-tiba saya -yang biasanya berusaha tidak menghiraukan emosi- menjadi berbincang-bincang dengan diri saya belakangan ini? Karena saya takut. Sesederhana itu. Saya takut.

Kemarin sore saya duduk di depan komputer kantor, seperti banyak hari kerja lainnya, berusaha menulis hal yang sebenarnya tidak penting menjadi hal penting (maaf, tapi memang begitulah keadaannya kadang-kadang) ketika tiba-tiba mas-mas dari sekred datang menyodorkan surat berlogo perusahaan saya yang berbentuk sekilas seperti huruf A atau segitiga atau siluet mata, entahlah. Tiap kedatangan surat-surat ini, saya selalu merasa sedikit khawatir, meskipun selama ini belum ada alasan untuk itu. Selama ini saya selalu "lulus" dari ujian enam bulanan kantor, evaluasi kinerja. Dan itu bagus. Mungkin. Entahlah.

Jadi hanya dengan sedikit khawatir, saya membuka surat itu, dan isinya membuat saya bertambah khawatir. Ironis, sebenarnya, karena surat itu menyatakan saya naik tingkat satu lagi dan membuat saya berhak atas tunjangan fungsional yang lebih tinggi. Saya tidak keberatan dengan seluruh hak saya itu, yang saya khawatirkan adalah masalah kewajibannya. Karena with bigger salary, comes bigger responsibility. Iya, saya mengutip film Spiderman.

Dan saya mengkhawatirkan tanggung jawab saya dengan level baru ini. Saya khawatir saya tidak lagi bisa bersantai-santai, mengerjakan hobi menjahit saya. Dan saya khawatir saya menjadi lebih stress lagi memikirkan "mau nulis apa ya, hari ini" karena sejak dua tahun terakhir saya terdampar di desk liputan yang tidak menyenangkan, buat saya. Iya, saya tidak menyukai desk kesehatan ini, karena saya tidak suka menulis tentang penyakit, atau pentingnya ASI dan imunisasi. Sebelum pindah ke desk ini, saya mungkin akan menyambut gembira, tanpa khawatir mengenai keharusan "mengejar kredit" untuk penilaian kinerja karena saya lebih menyukai bidang liputan saya sebelumnya. Tapi jika sekarang, saya khawatir. Yang mungkin sebenarnya tidak beralasan. Karena gaji saya naik. Jadi mungkin saya harusnya bisa menabung. Untuk membeli sepatu... Hahaha..

Dalam catatan yang lebih serius, mungkin saya harus mengabaikan perasaan takut tidak beralasan ini dan mencoba berusaha sebaik-baiknya saja. Lagipula, manusia berencana, Tuhan pula yang menentukan. Hmm.. tidak nyambung, tapi saya sedang kehabisan ide. Dan kehabisan minum. Mbak, permisi, mau pesan lagi..

*catatan dari warung makan, di sore hari yang cerah..


No comments: