Ada ide menarik dari diskusi di PBNU hari ini tentang amandemen UUD 1945. Gue gak akan ngebahas masalah amandemennya karena terlalu rumit, panjang dan membosankan (iya kan? kan? ;D).
Eniwei, salah satu pembicaranya adalah Fadli Zon (Direktur Eksekutif Institute for Policy Studies, if you care about the details) yang mengupas masalah amandemen UUD 1945 dari sisi perekonomian. Dia mengkritik bahwa setelah empat kali amandemen, UUD 1945 tidak lagi mencerminkan perekonomian kerakyatan seperti yang dimaksud oleh para pendiri NKRI. Perekonomian kini diserahkan ke pasar, jadi liberal.
Dan timbul satu pertanyaan:
Mending mana, jadi sapi di negara maju atau jadi manusia di negara berkembang?
Jawabnya?
Pastinya jadi sapi di negara maju, karena disana sapi disubsidi Pemerintah sebesar 2 dolar AS perhari, sementara di Indonesia, lebih dari 50 persen penduduknya hidup dengan kurang dari 2 dolar AS perhari (termasuk gue? :D)
Hehehe... pemikiran yang bagus. Ayo, mending mana jadi sapi ato jadi manusia?
Catatan: gambar untuk ilustrasi, kali aja ada yang lupa bentuk sapi dan manusia. Hihihi..


1 comment:
mending manusia di negara maju dong mbak, bisa sekaligus makan sapi yang disubsidi
Post a Comment