Before anything, I should remind myself, that this kind of job is dangerous. Tiap hari "belajar" sesuatu yang baru seperti ini bisa bikin gue kena penyakit umum manusia abad internet ini: overload of information.Sekarang gue harus memahami bahwa jihad bukanlah seperti apa yang diteriakkan teroris2 itu, seperti membunuh orang2 kafir, meledakkan bom di tempat2 umum, dan bahwa perbuatan itu tidak serta merta diganjar surga, seperti klaim salah satu pelaku pengeboman yang kalimatnya dipakai M. Guntur Romli di bukunya, "Ustadz, Saya Sudah Disurga".

Belum baca, sepertinya menarik. Dan provokatif. Dan dia tandatangani, "Untuk Arie, selamat membaca dan saya tunggu komentarnya". Hmm..
Diskusinya menarik, apalagi yang dateng jadi pembicara adalah Gus Dur, Ulil Abshar Abdalla dan Nasir Abbas. Pesen dari redaktur gue cuma satu, "Coba minta nomor telpon Nasir Abbas, kita akan butuh nanti". Oke, considered it done!
Tapi semenarik2nya perdebatan mengenai Islam dan terorisme itu, jadi tidak menarik kalo gue gak nangkep maksud mereka. Bukan, bukan karena mereka berbahasa Arab dan bukan juga karena gue bego banget (;D), tapi karena launching bukunya ini diadainnya malem. Dan bener2 sampe malem, berakhir jam 10. Gak masalah juga kalo gue baru bangun sore harinya, tapi kalo lu kerja dari pagi, liputan kayak gini jadi yah.. menyiksa.
Dan lebih parahnya lagi, gue ngajak temen gue Eko buat nemenin, dan berjanji kalo gue bakal kabur ASAP. Tapi ternyata gak bisa kabur karena gue harus nungguin Gus Dur untuk berita seperti ini. Bukan berita yang bagus2 banget, tapi tetep harus ditulis karena gue harus setor sesuatu ama bos. Not exactly what I have in mind when I wanted to be a journalist -writing about not so important stuffs- but somebody is just have to do her job.
Arrghhh... gue jadi gak enak ama Eko. Dia sampe mati gaya gitu, udah gak dengerin diskusi, udah nelpon2in semua orang yang dia suka telponin, mencoba baca buku dia sendiri, "The Black History of Coffe" tapi seperti bisa diduga, gak ada yang berhasil kalo otak lu teriak satu kata, "Tidur! Tidur! Tidur!"

Eniwei, mungkin gue harus baca bukunya. Udah lama juga gue gak baca buku..;)
No comments:
Post a Comment