Saturday, September 26, 2009

Menabung

Jadi, di Sabtu pagi ini saya terbangun dengan kesadaran aneh: saya belum ngecek tagihan kartu kredit bulan ini. Ya, salah satu penyebab kesadaran aneh ini adalah karena selama dua hari belakangan ini saya sudah berusaha mendownload file itu dari email saya dan tidak bisa-bisa, jadi hari ini harus bisa.

Tagihannya -meski tidak diluar dugaan- sempat membuat saya tercengang. Banyak banget ya? Saya cek tiap item yang terdaftar, yup, gak ada yang tidak dikenal. Semuanya dikenal. Dan kembali saya bertanya-tanya, tagihan saya banyak sekali ya?

Tagihan terbesar adalah tiket pesawat ke Vietnam untuk tiga orang, yang sayangnya, saya tidak termasuk salah satu dari tiga orang itu. Teman saya, Yohana, memutuskan untuk bertualang keliling Asia bersama teman-temannya dan meminjam kartu kredit saya untuk membooking tiket pesawat murah dari sebuah maskapai negara tetangga. Oh, saya sebenarnya diajak, tapi saya memutuskan tidak pergi.

Tagihan itu sudah dibayar lunas. Dan beranjak ke tagihan terbesar kedua, pembelian modem untuk bisa berinternetan. Hmm, saya tidak bisa mengeluh tentang ini. Saya memasukkannya sebagai pengeluaran bagi pekerjaan. Sewajib saya memiliki handphone berinternet dan recorder digital (karena yang pakai kaset terlalu berat untuk dipegang, apalagi untuk narasumber yang suka bicara banyak sambil berdiri). Tidak ada pertanyaan untuk modem ini, saya memang akan beli, cepat atau lambat. Masih untung gak laptopnya sekalian :).

Pengeluaran terbesar ketiga. Nah, ini adalah suatu dilema bagi saya. Tagihan perawatan muka. Cukup besar. Dan rutin tiap bulannya. Masalah saya adalah jerawat. Titik. Sebagai orang Asia bermuka Asia (hehehe..) saya adalah salah satu yang tidak beruntung tidak punya kulit yang bertahan kuat di cuaca panas. Masa-masa kuliah di Bandung cukup menyenangkan karena cuaca dingin Bandung meredam keluarnya jerawat. Tapi di Jakarta, jangan ditanya. Akhirnya saya menyimpulkan, pengeluaran ini dibutuhkan. Kalaupun bukan untuk kecantikan, untuk kesehatan.

Berlanjut ke pengeluaran-pengeluaran selanjutnya. Tidak ada. Hmm.. ternyata sisa dari pengeluaran bulan kemarin. Bulan lalu dengan sangat tidak bijaksana saya telah tergoda untuk membeli beberapa gaun cantik, salah satunya summer dress katun putih yang memang saya suka, dan satu lainnya adalah gaun dress code untuk pesta pernikahan teman dekat saya. Dan kembali saya berpikir positif, untung saya gak gesek untuk sepatunya sekalian. Hehehe...

Selama menerima tagihan kartu kredit, sebelumnya saya tidak pernah terlalu pusing memikirkan, selain karena sebelum-sebelumnya memang tidak terlalu besar pengeluarannya. Tapi bulan ini, saya memberi perhatian khusus, karena sebulan terakhir saya telah membulatkan tekad untuk mulai menabung. Dengan serius.

Sayangnya menabung bukanlah sebuah tradisi besar di keluarga saya, sehingga saya sadarnya telat. Tapi tidak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali katanya. Bolehlah saya mulai sekarang.

Teman saya, Yo, yang sedang keranjingan bepergian hanya mengangkat alis mendengar alasan saya menolak ajakannya berlibur ke Bali dengan tiket promosi murah dari AirAsia. "Saya mau menabung," jawab saya singkat. Bagi Yo, sepertinya alasan itu aneh. Yah, mungkin, mungkin juga tidak. Maksudnya, Bali, always love that place. Tapi toh saya sudah melihat tempat itu beberapa kali, dan beberapa diantaranya memang untuk berlibur, sehingga mungkin bisalah saya melewatkan tawaran menggoda saat ini.

Dan kenapa saya harus menabung? Untuk banyak alasan. Salah satunya, saya ingin membeli sepeda motor. Naik taksi ternyata bisa membosankan juga, terutama saat membayar. Hehehe... Apalagi saya sudah memiliki SIM dan sepertinya sayang kalau tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Alasan lain, saya harus mengisi apartemen saya yang sedang dibangun. Karena apartemen itu atas nama saya -biarpun masih dibayar oleh kakak saya- kenapa tidak menjadikannya sebuah tempat tinggal yang nyaman? Sayangnya, kenyamanan butuh biaya. Atau kakak saya biasa bilang, ada harga ada rupa.

Jadi kalau saya ingin punya dapur modern, sofa empuk, tivi plasma, vacuum cleaner untuk membersihkan debu (kamar kosan saya sangat berdebu dan tidak sehat), rak buku spektakuler (saya membayangkan rak buku menempel di dinding hingga langit-langit), saya harus menabung. Iya, mulai sekarang.

Begitulah, jadi saya tetap dengan pendirian saya ketika Yo membacakan daerah destinasi wisata yang kebetulan sedang promosi dan menyediakan tarif pesawat murah. Bali, pass. Thailand, pass. India,... harus pass!

Untungnya saya sedang tidak berminat untuk bepergian. Iya, beda dengan empat tahun lalu, dimana saya sangat bersemangat untuk "ngecap paspor". Saat ini, setelah kunjungan ke beberapa kota di negara lain, saya ternyata sampai pada kesimpulan, kehidupan kota di mana-mana itu sama, mirip. Hore untuk globalisasi! Mungkin berbeda di Venice, atau Paris, tapi itu juga tidak mungkin sekarang.

Akhirnya selama Yo membicarakan rencana perjalanannya, pikiran saya melamun. Mencoba memikirkan bahwa betapa saya benci tinggal di kosan begitu lama dan menginginkan sebuah tempat tinggal nyaman dan betapa saya juga membenci angkutan umum di Jakarta dan ingin beli mobil. Hehehe... Dan akhirnya saya juga berjanji untuk meminjamkan dia buku panduan perjalanan saya ke Venice, hadiah ulang tahun dari mantan pacar yang tahu saya tergila-gila dengan kota air itu.

Hmm... sapa tahu mencoba menabung adalah sebuah tantangan besar.. Dan saya masih ingin melihat India..

No comments: