"Let's Talk About AIDS!", they said.I know, I know, hari AIDS sedunia udah lewat, tanggal 1 Desember lalu. Tapi pembahasan tentang penyakit mematikan satu ini terus berjalan. Terus dan terus, terus dan terus.. terus dan terus.. terus dan terus.. terus dan terus.. *saat ini kelinci pink-nya Energizer harusnya lewat nabuh gendang*
So, hari ini tugas gue adalah dateng ke konpers-nya perempuan aktivis AIDS. Jadi gue dateng. Dalem hati (dan dalam otak) gue bertanya-tanya, apa lagi yang akan dibahas para perempuan aktivis ini? Kenapa mereka bukannya ngadain acara sebelum hari AIDS?
Dan mengapa mereka meminta spesifik agar yang dikirim adalah wartawan yang berjenis kelamin perempuan? Kenapa, oh, kenapa? .. Kenapa tanpamu, langit masih biru? Kenapa tanpamu, bunga-bunga layu?.. *hehe, jadi nyanyi deh*
Turned out, mereka mengundang para wartawan untuk melakukan protes mengenai pemberitaan media yang dianggap keterlaluan mengenai AIDS.
Jadi, cerita di media cetak terutama yang mengambil gaya penulisan narrative journalism atau civic jurnalism yang mengetengahkan human interest dari sebuah kisah besar tidak selalu "menguntungkan" para pengidap virus HIV tersebut. Bahkan, dalam beberapa kasus malah merugikan karena setelah nama dan wajah si penderita masuk koran, ada yang diusir sama tetangganya, ada yang ditolak dokter giginya, ada yang sampai stres karena itu dan mempercepat kematiannya.
Dan seringkali para media itu tidak sadar akan dampak-dampak dari sebuah pemberitaan yang tidak bertanggungjawab seperti itu.
Well, setidaknya itu kata mereka (para aktivis perempuan).
Kata gue?
Yah, seperti sudah gue bilang, gue kan gak bisa menghina profesi sendiri. Jadi, in my defense, (hehe.. ngeles nih) kalau mereka memang sama sekali tidak ingin diberitakan, ya jangan mau diwawancara. Atau sebut saja kata saktinya, "Off the record". Gue pikir wartawan kita masih patuh ama tiga kata sakti itu.
Oke, mungkin gue terlalu menggampangkan. Mungkin semuanya terjadi karena ketidaksengajaan. Sang narasumber (dan wartawan) tidak menyadari dampak yang mungkin timbul dari pemberitaan itu. Barulah setelah semua terjadi, semua harus menanggung konsekuensinya kecuali si wartawan yang tidak tahu menahu tentang keadaan si narasumber karena sibuk dengan urusan lain.
Yaa.., semua sudah terjadi, folks. Satu hal yang gue sayangkan dari pertemuan kemaren, sepertinya cuma jadi debat kusir. Ada seorang perwakilan wartawan yang juga keberatan dengan cap "media penjahat" itu karena tidak relevan dengan kenyataan di lapangan. Istilahnya, so yesterday, gitu loh..
Dia kemudian menjelaskan tentang kebijakan medianya yang gue yakin emang udah ngerti tentang masalah AIDS karena tabloid kesehatan. Dan dia sempat minta bukti media mana yang memberitakan secara tidak bertanggungjawab tersebut, tapi sayangnya (lagi) gak ada jawaban yang cukup memuaskan.
Dan gue gak mau berpanjanglebar tentang hal ini. Okelah, ada media "penjahat" tapi gak bisa digeneralisir begitu saja dong.
Karena pada prinsipnya di dunia ini semua diciptakan berpasangan. Ada Yin ada Yang, ada pria ada wanita, ada siang ada malam, ada yang cantik dan ada yang.. well, cantik banget (hehehe..), dan last but not least, ada baik dan ada juga penjahat...
Peace!
No comments:
Post a Comment