"Arts vs Religion: Do We Really Need the Feud?"Kemaren sore gue dateng ke konpers (lagi-lagi konpers ya?) Garin Nugroho yang ngasih tanggapan atas protes dari organisasi agama Hindu tentang film terbarunya yang mengambil inspirasi dari cerita wayang orang Jawa "Sinta Obong".
Asal "perseteruan" itu adalah sebuah artikel di majalah Tempo edisi 3-9 Oktober (btw, gue belum baca nih artikel sebenernya) yang mengatakan bahwa Sinta itu begini begitu (gue takut salah tafsir, gawat juga).
Tapi pada intinya, disitu digambarkan bahwa Sinta itu "hanya manusia biasa". Yang bisa marah, sedih, bahkan mempunyai nafsu birahi. Nah, bagian sensual inilah yang banyak diprotes oleh kaum Hindu, karena Sinta adalah sebuah sosok yang suci di agama tersebut.
Mereka keberatan kalau Sinta yang dimuliakan itu digambarkan slutty, apalagi ditambah dengan pemeran lain juga mengambil nama Rama, Rahwana dll yang juga sama sucinya di agama Hindu.
Sementara itu, si Garin hanya ketawa-tawa (dan dalam beberapa hal, dia meremehkan peringatan ini, menurut gue) dan berkilah bahwa film ini belum jadi. So, film yang berjudul "Requiem From Java" yang dibuat dalam rangka peringatan 250 tahun Mozart tersebut masih dalam tahap produksi saat ini.
Dan dia keukeuh (Ini bahasa Sunda, everyone! Bukan Inggris, biarpun sama2 dimiringin ;D) bicara mengenai kebebasan berekspresi bla bla bla, khas seniman. Dia gak mau karyanya yang bertaraf internasional itu (apparently, cuma ada enam sutradara sedunia yang dipilih untuk mengerjakan proyek Mozart itu) dinilai melecehkan dan segala macem (aahh, jadi inget, my boyfriend sangat membenci istilah "segala macem" gue. Hehe.. sori, keluar konteks).
Dan dia mengatakan sesuatu seperti "gak mungkin saya berniat melecehkan satu agama tertentu", dan "gak mungkin film ini dibiayai jika ternyata menghina agama tertentu" yang pada intinya, para orang Hindu itu salah tanggap tentang filmnya.
Garin juga menjelaskan bahwa film itu tidak bercerita tentang Sinta, Rama dan Rahwana seperti epik Ramayana sebenarnya, melainkan mengenai tiga orang Jawa yang memerankan Sinta, Rama dan Rahwana dalam wayang orang Jawa. Dan bahwa sebenarnya cerita ini bukan cerita Ramayana (walaupun gue yakin agak nyerempet2 kisah Ramayana juga).
Jadi, sebenarnya harusnya gak ada yang dipermasalahin, apalagi maen tuntut langsung gitu. Kayaknya gitu deh intinya.
***
Hmm... istirahat dulu. Capek juga ngomongin Sinta Obong panjang2. Kita refreshing ama cerita lain dulu.
Apa ya? Hmm.. ini aja deh. Gambar diatas adalah gambar Incubus, band favorit gue. I Wish You Were Here, Megalomaniac, Here in My Room, Drive, atau.. "I'm home alone tonight, full moon illuminate my room and send my mind in a flight..." (ayo tebak, lagu apa?).
Hehe.. udah, kita balik lagi ke Sinta Obong (btw, gue gak tahu arti "obong" itu apa).
***
Hmm.. arts vs religion, where were we?
Oh, gue mau ceritain suasana aja waktu itu. Jadi, di Galeri III TIM Jumat sore itu sepertinya yang dateng adalah para pendukung "kebebasan berekspresi dalam berkesenian". Well, nothing's wrong with that, sih, tapi entah kenapa gue udah mulai mencium gelagat gak enak (was it something i eat for lunch?), apalagi setelah salah seorang perwakilan dari WHYO (gue lupa kepanjangan persisnya, tapi ini adalah organisasi agama Hindu gitu deh) diwawancara wartawan diluar.
Kelihatannya dia masih marah karena Garin tidak menanggapi "serius" peringatan mereka dan dia mengingatkan bahwa pemeluk Hindu itu lumayan banyak diseluruh dunia dan tidak semua merasa senang dengan kebebasan berekspresi yang banyak dituntut seniman.
Dan suasana semakin mencekam (ato entah, cuma gue aja yang ngerasa, kali) pas bapak itu mewakili WHYO kasih komentar balik ke Garin. Dia mengingatkan kembali bahwa Sinta, Rama dan Rahwana itu adalah simbol suci di agama Hindu dan bahwa mereka keberatan dengan penggambaran sensual Sinta. Dia minta agar Garin at least mengganti nama2 itu, kalau benar memang bukan tentang kisah Ramayana.
Dan beberapa kata dia yang gue ingat adalah: "Sepertinya bapak Garin tidak menyadari bahwa ada pemeluk Hindu militan di dunia ini" (gue pikir dia semacam menyindir pengeboman yang diduga dilakukan oleh agama Islam --all the terrorism, hello? Masih ingat?). Dia mengingatkan bahwa para pemeluk Hindu militan ini, dia menyebut India salah satunya, mungkin saja tidak setuju dengan "penghinaan" yang dilakukan atas Sinta "atas nama seni" dan bisa jadi aksi terorisme adalah jalan yang ditempuh mereka.
"Kami sudah menderita dengan adanya bom Bali, harus berapa bom lagi kita hadapi?" tanyanya getir.
Satu hal yang gue agak protes mengenai Garin adalah cara dia menghadapi bapak tua itu. Garin memasang pose bersedekap didepan bapak yang menghadap dia di lantai itu (Garin cs berdiri disemacam panggung atau mimbar gitulah). Menurut gue yang melihat dari jauh, itu sikap snobisme yang tidak perlu. Dia kan bisa berdiri biasa aja, gak perlu bersedekap dengan dagu diangkat seperti itu.
Gue setuju dengan kebebasan berekspresi, tapi gue gak setuju kalau ada orang lain jadi korban. Gue gak bisa ngebayangin kalau si bapak itu benar. Harus berapa bom lagi meledak di Indonesia?
*Dan gue jadi puitis romantis gini. Meratap-ratap sendu. Tapi seriously, secuek-cueknya gue, gue gak mau ngorbanin orang lain karena ego yang gak perlu (hmm.. keliatan banget gue berpihak ya? Tenang, bukan gue yang ngerjain laporan kasus ini. Ini semata-mata opini pribadi gue)*
Entahlah, gue bukan orang seni untuk bisa mengerti sepenuhnya apa maksud "kebebasan berekspresi". Gue kan hanya.. wartawan.. ;D
Sekali lagi, world peace! (tangan membentuk "V" dan senyum manis ala Miss Universe. Ayo, sekali lagi, world peace!)
1 comment:
ini bagus sih, tapi bagiku tetep bagusan cerpenmu. jadi manaaaa cerpennya rie..................
Post a Comment