Tuesday, December 6, 2005

Too Many Tears I Cried... huhuu..

Judul Film: Chronicles of Narnia:
(The Lion, the Witch and the Wardrobe)

Produksi: Disney, 2005
Jenis: Fantasi gila, untuk semua umur
Durasi: 2 jam 12 menit (sori kalo salah ngitung)

Sinopsis pendek:
Empat saudara menemukan satu pintu yang membawa mereka ke dunia lain (jangan merinding dulu, ini bukan film horor). Mereka akhirnya "terdampar" di sebuah negeri bernama Narnia, dimana mereka telah diramalkan akan menjadi raja dan ratu yang berkuasa (empat-empatnya, yes). Namun, sebelum naik takhta, mereka harus berjuang dulu melawan si White Witch. Dan film pun dimulai..

Pertama gue dateng, duduk, di kepala gue udah muncul great expectation. Adegan awal ketika mereka terpaksa berpisah dengan nyokap mereka karena perang (emang sialan Perang Dunia II itu!) gue merasa terharu. Huu.. hu.. akhirnya gue terpaksa menangis karena emang adegannya menyentuh (cuih, disentuh ni ye.. hehe..).

Itu satu.

Selama menonton, gue masih duduk manis menyimak. Dan ketika akhirnya si raja singa (Lion King, ato The Lion yang ada di judulnya, bukan sejenis STD) meninggal karena mengorbankan diri di altar, gue kembali menangis. Huu.. hu.. Kenapa? kenapa, gue ingin bertanya. Harus ada kematian di film anak-anak ini? Tidaaakkkk...

Dua.

Dan ternyata, itu tidak berakhir. Tangis gue, maksudnya, bukan kematian si singa, karena ternyata dia hidup lagi, hehe.. spoiler nih. Bagi para pecinta "Kuch Kuch Hotta Hai" dan menangisi setiap adegannya, you'll love this movie. Karena... ampun deh, gak abis-abis dramanya.

Abis singa, ada lagi yang mau mati. Edmund kalo gak salah. Mau nangis lagi, udah abis kali, airmatanya (kata kakak gue waktu kecil, gak ada toko yang jual airmata lo, jadi harus hemat). Jadinya gue cuma bengong, bete.

It's not a big deal, sebenernya. Kalo gak mau nangis, ya udah. Tapi gue ngerasa, somehow, film ini terlalu banyak mendramatisir dan "memohon" agar penonton kasian ama filmnya dan menangis. Yang bikin sebel itu, karena gak ada yang mati. Si singa gak mati (btw, namanya Aslan, gue baru inget), si Edmund juga gak mati, bahkan si panglima perang gagah berani yang maju duluan dan dibantai musuh pun gak mati, karena rupanya salah satu dari empat saudara itu punya ramuan ajaib yang bisa menyembuhkan orang sekarat. Hayyah... negeri dongeng 'kali..

Eh, ada ding yang mati. Si Penyihir jahat tapi cantik. Namanya Jadis. Diindonesiain jadi Jadul kali ye.. (jadul= jaman dulu. Maksa deh).

Jadi, kesimpulannya, sia-sia gue ngeluarin airmata yang begitu berharga (ingat, gak ada yang jual di toko!) karena tidak ada yang mati. Semuanya happy ending. Bahagia sentosa. Aman terkendali.

Cukup menyenangkan sih buat film hiburan.

No comments: